kontes akhir tahun

Jenis Serangan Penyusup Sistem (Bagian III - tamat)

Ditulis Pada : April 2nd, 2008 , 8:51 am | Kategori Hardware, Komputer & Internet, Software, Tips dan Trik, Windows | Author: Nias zalukhu

Sebagai bagian terakhir dari artikel sebelumnya, berikut kami tampilkan jenis-jenis serangan yang dapat dilakukan oleh penyusup (baca: Hacker/Cracker) untuk menyerang sistem yang kita miliki. Tanpa bermaksud mengajarkan menjadi “penyusup” artikel ini semata-mata agar kita dapat waspada akan segala kemungkinan serangan yang mengancam keamanan sistem yang kita miliki/kelola.

9. PROXY SERVER ATTACKS.

Salah satu fungsi Proxy server adalah untuk mempercepat waktu response dengan cara menyatukan proses dari beberapa host dalam suatu network. Dalam kebanyakan kasus, tiap host mempunyai kekuasan untuk membaca dan menulis (read/write) yang berarti apa yang bisa saya lakukan dalam sistem saya akan bisa juga saya lakukan dalam sistem anda dan sebaliknya. Jika firewall yang berada dalam trusted network tidak dikonfigurasikan secara optimal, khususnya untuk memblok akses dari luar, apalagi jika autentikasi dan enkripsi tidak digunakan, seorang penyusup bisa menyerang proxy server dan mendapatkan akses yang sama dengan anggota network lainnya. Jika penyusup sudah masuk ke sistem ia tentunya bisa melakukan apa saja dan ia bisa melakukan

DDOS (distributed denial of service) secara anoymous untuk menyerang network lain. Router yang tidak dikonfigurasikan secara optimal juga akan berfungsi sebagai proxy server dan akan mengakibatkan kerawanan yang sama dengan proxy server.

10.REMOTE COMMAND PROCESSING ATTACKS.

Trusted Relationship antara dua atau lebih host menyediakan fasilitas pertukaran informasi dan resource sharing. Sama halnya dengan proxy server, trusted relationship memberikan kepada semua anggota network kekuasaan akses yang sama di satu dan lain sIstem (dalam network). Penyusup akan menyerang server yang merupakan anggota dari trusted system. Sama seperti kerawanan

pada proxy server, ketika akses diterima, seorang attacker akan mempunyai kemampuan mengeksekusi perintah dan mengkases data yang tersedia bagi user lainnya.

11.REMOTE FILE SYSTEM ATTACKS.

ProtoKol-protokol untuk tranportasi data yang merupakan tulang punggung dari internet adalah tingkat TCP (TCPLevel) yang mempunyai kemampuan dengan mekanisme untuk baca/tulis (read/write) Antara network dan host. Penyusup bisa dengan mudah mendapatkan jejak informasi dari mekanisme ini untuk mendapatkan akses ke direktori file. Tergantung pada OS (operating system) yang digunakan, penyusup bisa meng extrack informasi tentang network, sharing privileges, nama dan lokasi dari user dan groups, dan spesifikasi dari aplikasi atau banner (nama dan versi software). System yang dikonfigurasi atau diamankan secara minimal akan dengan mudah membeberkan informasi ini bahkan melalui firewall sekalipun. Pada system UNIX, informasi ini dibawa oleh NFS (Network File System) di port 204, sedangkan Windows menyediakan data ini pada SMB (server messaging block) dan Netbios pada port 135 - 139(NT) dan port 445 pada win2k. Network administrator bisa meminimalisasi resiko yang akan terjadi dengan menggunakan Protokol-protokol tersebut dengan memberikan sedikit peraturan. Network dengan sistem operasi windows, harusnya memblok akses ke port 139 dan 445 dari luar network, jika dimungkinkan. Dalam system unix port 2049 seharusnya di blok, sharing file dibatasi dan permintaan file melalui showmount (perintah dalam unix) seharusnya di catat dalam log.

12.SELECTIVE PROGRAMS INSERTIONS.

Selective Program Insertions adalah serangan yang dilakukan ketika penyusup menaruh program-program penghancur, seperti virus, worm dan trojan (mungkin istilah ini sudah anda kenal dengan baik) pada sistem sasaran. Program-program penghancur ini sering juga disebut malware. Program-program ini mempunyai kemampuan untuk merusak sistem, pemusnahan file, pencurian password sampai dengan membuka backdoor. Biasanya antivirus yang dijual dipasaran akan dapat mendeteksi dan membersihkan program-program seperti ini, tetapi jika ada virus baru, virus scanner belum tentu dapat menghadapi script-script baru. Beberapa network administrator melakukan pertahan terhadap malware dengan teknologi alternatif seperti behaviour blockers, yang memberhentikan kode-kode yang dicurigai berdasarkan contoh kelakuan malware, bukan berdasarkan signature. Beberapa aplikasi lainnya akan mengkarantina virus dan code-code yang dicurigai didalam daerah yang dilindungi, biasanya disebut sandboxes.

13.PORT SCANNING.

Melalui port scanning seorang penyusup bisa melihat fungsi dan cara bertahan sebuah sistem dari berbagai macam port. Seorang penyusup bisa mendapatkan akses kedalam sistem melalui port yang tidak dilindungi. Misalnya, scaning bisa digunakan untuk menentukan dimana default SNMP string di buka untuk publik, yang artinya informasi bisa di extract untuk digunakan dalam remote command attack.

14.TCP/IP SEQUENCE STEALING, PASSIVE PORT LISTENING &

PACKET INTERCEPTION

TCP/IP Sequence Stealing, Passive Port Listening dan Packet Interception berjalan untuk mengumpulkan informasi yang sensitif untuk mengkases network. Tidak seperti serangan aktif maupun brute-force, serangan yang menggunakan metoda ini mempunyai lebih banyak kualitas stealth-like. TCP/IP Sequence Stealing adalah pemetaan dari urutan nomor-nomor (angka), yang bisa membuat packet milik penyusup terlihat legal. Ketika suatu sistem meminta sesi terhadap mesin lain, kedua sistem tersebut saling bertukar nomor-nomor sinkronisasi TCP. Jika tidak dilakukan secara acak, penyusup bisa mengenali algoritma yang digunakan untuk menggenerate nomor-nomor ini. Urutan nomor yang telah dicuri bisa digunakan penyusup untuk menyamar menjadi salah satu bagian dari sistem tadi, dan akhirnya memperbolehkannya untuk melewati firewall. Hal ini sebenarnya efektif jika digunakan bersama IP Spoofing. Melalui passive port listening, seorang penyusup dapat memonitor dan mencatat (log) semua pesan dan file yang dikirim ke semua port yang dapat diakses pada target sistem untuk menemukan titik kerawanan. Packet Interception adalah bagian (tepatnya pelapis) dari active listener program yang berada pada port di sistem sasaran yang berfungsi untuk menerima ataupun mengembalikan semua tipe pesan (data) spesifik yang dikirim. Pesan tersebut bisa dikembalikan ke unauthorized sistem, dibaca dan akhir nya dikembalikan lagi baik tanpa perubahan atau juga dengan perubahan kepada penyusup, atau bahkan tidak dikembalikan. Dalam beberapa versi atau juga menurut konfigurasi dari user SSHD(secured shell daemon), otentikasi bisa dilakukan dengan cara menggunakan public key (milik mesin tentunya). Jika seorang penyusup mempelajari public key yang digunakan, ia bisa menciptakan atau memasukan paket-paket palsu. Sistem sasaran akan menganggap pengirim paket palsu tersebut mempunyai hak akses.

5. HTTPD ATTACKS.

Kerawanan yang terdapat dalam HTTPD ataupun webserver ada lima macam: buffer overflows, httpd bypasses, cross scripting, web code vulnerabilities, dan URL floods. HTTPD Buffer Overflow bisa terjadi karena penyusup menambahkan errors pada port yang digunakan untuk web traffic dengan cara memasukan banyak karakter dan string untuk menemukan tempat overflow yang sesuai. Ketika tempat untuk overflow ditemukan, seorang penyusup akan memasukkan string yang akan menjadi perintah yang dapat dieksekusi. Bufer-overflow dapat memberikan penyusup akses ke command prompt. Beberapa feature dari HTTPD bisa digunakan untuk meciptakan HTTPD byapass, memberi akses ke server menggunakan fungsi logging. Dengan cara ini, sebuah halaman web bisa diakses dan diganti tanpa dicatat oleh web server. Cara ini sering digunakan oleh para cracker, hacktivis dan cyber vandals untuk mendeface website. Sedangkan kerawanan pada script-script web bisa terjadi pada semua bahasa pemrograman web dan semua ekstensi aplikasi. Termasuk VB, Visual C++, ASP, TCL, Perl, PHP, XML, CGI dan Coldfusion. Pada dasarnya, attacker akan mengexploitasi kelemahan dari sebuah aplikasi, seperti CGI script yang tidak memeriksa input atau kerawanan pada IIS RDS pada showcode.asp yang mengizinkan menjalankan perintah secara remote (remote command priviledges). Melalui cross scripting dan cross-site scripting seorang attacker bisa mengexploitasi pertukaran cookies antara browser dan webserver. Fasilitas ini dapat mengaktifkan script untuk merubah tampilan web dll. Script ini bisa menjalankan malware, membaca infomasi penting dan meng expose data sensitive seperti nomor credit card dan password. Pada akhirnya attacker dapat menjalankan denial of service dengan URL flood, yang dilakukan dengan cara mengulang dan terus mengulang permintaan terhadap port 80 httpd yang melalui batas TTL (time to live).

Beberapa user ataupun manager mungkin benci mendengar serangan-serangan tersebut. Tapi pada kenyataanya memang tidak ada yang benar-benar fix untuk mengamankan network ataupun website. Keamanan adalah suatu proses, bukan produk. Jika anda memasang firewall, IDSes(instrusion detection system), routers dan honeypots (system untuk jebakan) mungkin dapat menyediakan lapisan-lapisan untuk bertahan, tetapi sekali lagi peralatan paling canggih di dunia tidak akan menolong suatu organisasi sampai organisasi tersebut mempunyai proses untuk mengupgrade system, memakai patch, mengecek security pada system sendiri dan metode lain.

Telah banyak perusahaan yang memakai IDSes tetapi tidak memonitor file log, mereka menginstall firewall, tetapi tidak mengupgradenya. Jalan terbaik untuk melindungi website maupun network dari serangan adalah mendekatkan keamanan sebagaimana tantangan yang sedang terjadi terhadap keamanan itu sendiri, terus berusaha, selalu ingat basicnya

Share and Enjoy: These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Technorati
  • Book.mark.hu
  • del.icio.us
  • Netvouz
  • DZone
  • ThisNext
  • blogmarks
  • Fark
  • YahooMyWeb
  • Netscape

Artikel Terkait

Anda bisa mempublikasikan ulang artikel ini, dengan syarat menyebutkan sumber, judul asli dan link ke artikel ini.

stumble it

Post a Comment