Jenis Serangan Penyusup Sistem (bagian I)

Ditulis Pada : March 27th, 2008 , 9:50 am | Kategori Hardware, Komputer & Internet, Software, Tips dan Trik, Windows | Author: Nias zalukhu

Terkadang konfigurasi yang salah pada sistem komputer kita yang kita anggap bukan masalah yang berarti, justru menjadi celah keamanan bagi para penyusup. Untuk dapat mengatasinya lebih baik rasanya jika kita mengetahui jenis-jenis serangan yang dapat terjadi untuk menjaga stabilitas sistem.

Berikut serangan-serangan yang dapat terjadi dan mengancam keamanan system, yang kami dapatkan dari artikel Bpk. Reza Muhammad.

1. IP SPOOLING.

IP Spoofing yaitu pemalsuan alamat IP penyusup sehingga sasaran menganggap alamat IP penyusup adalah alamat IP dari host di dalam network bukan dari luar network. Misalkan penyusup mempunyai IP address type A 66.25.xx.xx ketika penyusup melakukan serangan jenis ini maka Network yang diserang akan menganggap IP attacker adalah bagian dari Networknya misal 192.xx.xx.xx yaitu IP type C. IP Spoofing terjadi ketika seorang penyusup ‘mengakali’ packet routing untuk mengubah arah dari data atau transmisi ke tujuan yang berbeda. Packet untuk routing biasanya di transmisikan ecara transparan dan jelas sehingga membuat penyusup dengan mudah untuk memodifikasi asal data ataupun tujuan dari data. Teknik ini bukan hanya dipakai oleh penyusup tetapi juga dipakai oleh para security profesional untuk men tracing identitas dari para penyusup.

Solusi untuk mencegah IP spoofing adalah dengan cara mengamankan packet-packet yang ditransmisikan dan memasang screening policies. Enkripsi Point-to-point juga dapat mencegah user yang tidak mempunyai hak untuk membaca ata/packet. Autentikasi dapat juga digunakan untuk menyaring source yang legal dan bukan source yang sudah di spoof oleh attacker. Dalam pencegahan yang lain, Admininistrator dapat menggunakan signature untuk paket-paket yang berkomunikasi dalam networknya sehingga meyakinkan bahwa paket tersebut tidak diubah dalam perjalanan.

2. FTP ATTACK.

Salah satu serangan yang dilakukan terhadap File Transfer Protocol adalah serangan buffer overflow yang diakibatkan oleh malformed command. tujuan menyerang FTP server ini rata-rata adalah untuk mendapatkan command shell ataupun untuk melakukan Denial Of Service. Serangan Denial Of Service akhirnya dapat menyebabkan seorang user atau attacker untuk mengambil resource didalam network tanpa adanya autorisasi, sedangkan command shell dapat membuat seorang penyusup mendapatkan akses ke sistem server dan file-file data yang akhirnya seorang attacker bisa membuat anonymous root-acces yang mempunyai hak penuh terhadap system bahkan network yang diserang. Tidak pernah atau jarang mengupdate versi server dan mempatchnya adalah kesalahan yang sering

dilakukan oleh seorang admin dan inilah yang membuat server FTP menjadi rawan untuk dimasuki. Sebagai contoh adalah FTP server yang populer di keluarga UNIX yaitu WU-FTPD yang selalu di upgrade dua kali dalam sehari untuk memperbaiki kondisi yang mengizinkan terjadinya bufferoverflow. Mengexploitasi FTP juga berguna untuk mengetahui password yang terdapat dalam sistem, FTP Bounce

attack (menggunakan server ftp orang lain untuk melakukan serangan), dan mengetahui informasi yang berada dalam system.

3. UNIX FINGER EXPLOIT.

Pada masa awal internet, Unix OS finger utility digunakan secara efisien untuk men sharing informasi diantara pengguna. Karena permintaan informasi terhadap informasi finger ini tidak menyalahkan peraturan, kebanyakan sistem Administrator meninggalkan utility ini (finger) dengan keamanan yang sangat minim, bahkan tanpa kemanan sama sekali. Bagi seorang penyusup, utility ini sangat berharga untuk melakukan informasi tentang footprinting, termasuk nama login dan informasi contact. Utility ini juga menyediakan keterangan yang sangat baik tentang aktivitas user didalam sistem, berapa lama user berada dalam sistem dan seberapa jauh user merawat sistem. Informasi yang dihasilkan dari finger ini dapat meminimalisasi usaha penyusup dalam menembus sebuah sistem. Keterangan pribadi tentang user yang dimunculkan oleh finger daemon ini sudah cukup bagi seorang penyusup untuk melakukan social engineering dengan menggunakan social skillnya untuk memanfaatkan user agar ‘memberitahu’ password dan kode akses terhadap sistem.

4. FLOODING & BROADCASTING.

Seorang penyusup bisa mengurangi kecepatan network dan host-host yang berada di dalamnya secara significant dengan cara terus melakukan request/permintaan terhadap suatu informasi dari sever yang bisa menangani serangan classic Denial Of Service(Dos), mengirim request ke satu port secara berlebihan dinamakan flooding, kadang hal ini juga disebut spraying. Ketika permintaan flood ini dikirim ke semua station yang berada dalam network serangan ini dinamakan broadcasting. Tujuan dari kedua serangan ini adalah sama yaitu membuat network resource yang menyediakan informasi menjadi lemah dan akhirnya menyerah. Serangan dengan cara Flooding bergantung kepada dua faktor yaitu: ukuran dan/atau volume (size and/or volume). Seorang penyusup dapat menyebabkan Denial Of Service dengan cara melempar file berkapasitas besar atau volume yang besar dari paket yang kecil kepada sebuah system. Dalam keadaan seperti itu network server akan menghadapi kemacetan: terlalu banyak informasi yang diminta dan tidak cukup power untuk mendorong data agar berjalan. Pada dasarnya paket yang besar membutuhkan kapasitas proses yang besar pula, tetapi secara tidak normal paket yang kecil dan sama dalam volume yang besar akan menghabiskan resource secara percuma, dan mengakibatkan kemacetan. Penyusup sering kali menggunakan serangan flooding ini untuk mendapatkan akses ke system yang digunakan untuk menyerang network lainnya dalam satu serangan yang dinamakan Distributed Denial Of Service(DDOS). Serangan ini seringkali dipanggil smurf jika dikirim melaluli ICMP dan disebut fraggles ketika serangan ini dijalakan melewati UDP.

Suatu node (dijadikan tools) yang menguatkan broadcast traffic sering disebut sebagai Smurf Amplifiers, tools ini sangat efektif untuk menjalankan serangan flooding. Dengan melakukan spoofing terhadap network sasaran, seorang attacker dapat mengirim sebuah request ke smurf amplifier, Network yang di amplifiying (dikuatkan) akan mengirim respon kesetiap host di dalam network itu sendiri, yang berarti satu request yang dilakukan oleh penyusup akan menghasilkan pekerjaan yang sama dan berulang-ulang pada network sasaran, hasil dari serangan ini adalah sebuah denial of service yang tidak meninggalkan jejak. Serangan ini dapat diantisipasi dengan cara menolak broadcast yang diarahkan pada router. TCP-level Flooding (kebanyakan SYN ATTACK) telah digunakan pada bulan februari tahun 2000 untuk menyerang Yahoo!, eBay dll yang menggunakan serangan DDOS(Distributed Denial Of Service). Network yang tidak menggunakan firewall untuk pengecekan paket-paket TCP biasanya bisa diserang dengan cara ini. Beberapa fungsi penyaringan pada firewall (Firewall Filtering Function) biasanya akan mampu untuk menahan satu serangan flooding dari sebuah alamat IP, tetapi serangan yang dilakukan melalui DDOS akan sulit di cegah karena serangan ini seperti kita ketahui datangnya dari berbagai alamat IP secara berkala. Sebenarnya salah satu cara untuk menghentikan serangan DDOS adalah dengan cara mengembalikan paket ke alamat asalnya atau juga dengan cara mematikan network(biasanya dilakukan oleh sistem yang sudah terkena serangan sangat parah).

(Bersambung)

Share and Enjoy: These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Technorati
  • Book.mark.hu
  • del.icio.us
  • Netvouz
  • DZone
  • ThisNext
  • blogmarks
  • Fark
  • YahooMyWeb
  • Netscape

Artikel Terkait

Ingin Pasang Iklan atau ingin direview di Zalukhu.com ? Silahkan baca INFO LENGKAP.
Anda bisa mempublikasikan ulang artikel ini, dengan syarat menyebutkan sumber, judul asli dan link ke artikel ini.

Mulai 9 Oktober 2008 URL Komentar Blog ini Saya NOFOLLOW-kan
stumble it

Maap.. ga boleh ngoceh kali ini.. he he he