STOP Komersilkan Gempa Nias

Ditulis Pada : March 25th, 2008 , 9:18 am | Kategori Curhatan, Tentang Nias | Author: Nias zalukhu

Sebelum 28 Maret tiga tahun yang lalu, Ononiha (penduduk Nias) sedang mencoba membangun masa depan. Dengan perekonomian yang tidak begitu membanggakan, namun cukup stabil yang terlihat dari harga barang-barang yang wajar, gaji tukang dan karyawan yang normal untuk standar sebuah kabupaten kecil di Indonesia. Meskipun pembangunan sarana dan prasaran masih belum memadai, namun kondisi ini dijalani dengan pola hidup sederhana masyarakatnya

Kejadian gempa yang mengguncang Nias 28 Maret tiga tahun yang lalu telah merubah segalanya. Di saat masyarakat Nias masih tertatih-tatih membangun masa depan, bencana telah merenggut masa depan sebagian masyarakat Nias. Harapan demi harapan, doa demi doa terucap untuk mendapatkan uluran tangan dari luar Nias. Hal ini memang terkabul, tidak lebih dari seminggu pasca gempa, bantuan pun datang bertubi-tubi. Masyarakat luar pun mulai membanjiri pulau yang disebut Tano Niha ini. Secercah harapan pun mulai muncul di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Bantuan yang datang pun dalam jumlah yang sangat sangat besar untuk ukuran masyarakat Nias. Maka mulailah modernisasi INSTANT di berbagai bidang. Masuknya lembaga swadaya asing (NGO) hingga BRR yang merekrut karyawan dengan gaji yang fantastis untuk ukuran Nias sebelumnya, diikuti dengan meningkatnya harga-harga barang secara drastis. Proyek-proyek berbiaya Ratusan Juta hingga Milyaran Rupiah pun terjadi. Masyarakat Nias khususnya yang menjadi bagian dalam Proyek Bantuan pun mulai terlena, tujuan bantuan pun mulai belok dari sasaran sebenarnya. Bisa kita saksikan saat ini, para KORBAN GEMPA , dalam hal ini masyarakat yang benar-benar menderita kerugian akibat gempa, yang sesungguhnya MASIH menanti bantuan apa yang sebenarnya mereka dapatkan. Di tahun ketiga pasca gempa, masih banyak korban gempa yang seharusnya mendapat bantuan justru belum disentuh oleh para TANGAN-TANGAN yang diberi amanah untuk MENYALURKAN bantuan. Masih segar di ingatan kita, demonstrasi warga yang terjadi di kantor sebuah lembaga penyalur dana bencana gempa beberapa waktu lalu yang menuntut transparasi dana bantuan rumah. Karena sampai saat ini, masih banyak warga yang menjadi korban gempa belum merasakan bantuan dan ironisnya tetangga-tetangga mereka yang konon tidak menderita kerugian berarti bahkan yang TIDAK menderita kerugian akibat gempa justru dengan memberikan uang sejumlah tertentu kepada para fasilitator, telah menerima kucuran dana dari lembaga yang didanai oleh sumbangan warga Indonesia dan dunia tersebut.

Tapi sudahlah tanpa menyebut nama lembaga sepertinya kita sudah dapat menebak kinerjanya, karena hasil-hasil pekerjaannya pun sudah membuktikan ketidak beresan dan ketidak profesionalan lembaga tersebut. Bisa dilihat bahwa proyek-proyek yang diutamakan hanyalah proyek-proyek pembangunan sarana dan prasana fantastis tanpa memikirkan bagaimana pemeliharaannya. Misalnya saja Proyek Gedung Rumah Sakit yang menelan dana Milyaran Rupiah, saat ini justru mubazir akibat tidak adanya tenaga-tenaga medis ditambah pelayanan yang tidak sepantasnya oleh oknum-oknum paramedis kepada para pasiennya. Hal lain yang perlu disoroti misalnya pembangunan gedung penyiaran yang berbiaya fantastis juga terasa tak bermanfaat, mengingat belum adanya para tenaga-tenaga professional yang mengelolanya. Ironis bukan? Dalam benak kita mungkin bertanya, benarkah ini tujuan para warga Indonesia dan dunia menyumbangkan uangnya????? Dua contoh di atas terjadi di ibukota Nias yaitu Gunungsitoli, jika proyek di kota besar yang tersorot saja tidak mencerminkan penyaluran dana yang efektif, apalagi proyek-proyek di daerah-daerah terpencil?. Walaupun ada beberapa proyek yang menurut kami sangat positif yang seharusnya lebih banyak mendapat perhatian seperti pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik di pedesaan.

Lembaga-lembaga asing yang lebih banyak berpihak pada pembangunan mental Korban Gempa dan menyentuh langsung kehidupan para Korban Gempa, justru dirusak oleh adanya diskriminasi perekrutan oleh warga Indonesia sendiri. Dengan alasan, kurangnya Sumber Daya Manusia di Nias jabatan-jabatan penting dan strategis justru dipegang oleh orang Non Nias. Contoh kasus terjadi di salah satu Lembaga Swadaya Asing terbesar di kota Gunungsitoli, pada saat yang bersamaan seorang Putra daerah Nias dan Luar Nias melamar untuk pekerjaan yang sama. Bagian personalia yang kebetulan berdaerah sama dengan pelamar dari Luar Nias, memberikan gaji yang lebih tinggi dibandingkan dengan Putra Nias untuk posisi dan pekerjaan yang sama.

Bukan hanya sampai disitu saja penderitaan KORBAN GEMPA NIAS, justru di saat-saat membutuhkan bantuan masih banyak oknum-oknum yang memanfaatkan keadaan. Di sebuah desa di kecamatan Gunungsitoli, seorang petugas survey yang seharusnya memberikan laporan status rumah korban gempa dibantu oleh fasilitator desa justru memanfaatkan keadaan agar keluarga mereka yang status rumahnya rusak ringan menjadi penerima bantuan dengan status rusak total dengan menyingkirkan nama-nama warga korban gempa yang seharusnya lebih berhak menerima. Warga lain yang memprotes hal ini disarankan untuk membuat surat pernyataan palsu seakan-akan rumah mereka rusak total semuanya dan menjanjikan akan memproses. Masyarakat yang terintimidasi pun menunggu dan menunggu hingga akhirnya hasil pengumuman penerima bantuan yang mencantumkan nama-nama penerima sebagian besar keluarga dan orang terdekat fasilitator dan petugas survey. Dengan diberi waktu untuk memprotes, warga pun ke kantor lembaga tersebut melayangkan surat protes namun justru hanya dijawab akan diproses. Dengan alasan dana bantuan belum turun oleh fasilitator warga desa yang lain pun mencoba untuk tidak berharap dan membangun kembali rumah-rumah mereka dengan dana sendiri yang terbatas. Namun ketika dana itu telah turun tanpa sepengetahuan warga yang lain, warga pun protes namun hasilnya tetap saja malah justru mendapat intimidasi dari petinggi lembaga tersebut. Ketika kami mencoba mengklarifikasikan kami justru mendapat jawaban yang mencengangkan bahwa desa tersebut telah masuk daftar hitam akibat kebohongan publik. Jika memang alasannya begitu mengapa warga tidak diklarifikasi sehingga mendapatkan kebenaran, atau para petinggi lembaga tersebut mengambil keputusan dari satu pihak saja dan bagaimana pula warga yang “DEKAT” dengan fasilitator dan petugas survey bisa menerima bantuan seperti sembunyi-sembunyi.

Tidak dapat dipungkiri saat ini Warga Nias KORBAN GEMPA sudah lelah menanti bantuan yang telah lama dikucurkan oleh pemerintah maupun warga dunia. Tidak sedikit korban gempa trauma mendengar kata bantuan. Jika disinggung soal bantuan jawaban mereka hampir beragam bahwa bantuan itu hanya singgah bagi mereka yang pintar melobi dan dekat dengan pejabat. Lebih ironis lagi, di kawasan desa Nias Selatan, warga desa sudah antipati jika bertemu dengan orang luar yang datang ke desanya, karena setelah 3 tahun mereka hanya dibuai oleh janji-janji akan bantuan. Entah trauma apa yang menimpa mereka.

Bagaimana jika semua lembaga-lembaga donor tersebut keluar dari Nias, pernahkah TANGAN-TANGAN itu berpikir masyarakat Nias harus berbuat apa untuk menyambung hidup di tengah-tengah harga-harga yang sudah melambung. Sudahkah para ONONIHA yang bekerja di lembaga-lembaga itu berpikir kelak jika sudah habis kontrak bagaimana mempertahankan penghasilan yang membuat terlena saat ini?

Tiga tahun sudah KORBAN GEMPA menderita, tiga tahun sudah KORBAN GEMPA menangis, tiga tahun sudah KORBAN GEMPA menanti , tiga tahun sudah Nias dimanjakan oleh pembangunan-pembangunan instant, tiga tahun sudah oknum-oknum bergelimang akan dana yang seharusnya bukan miliknya, tiga tahun sudah kesenjangan sosial semakin terasa di Nias, tiga tahun sudah Nias dikomersilkan, tiga tahun sudah harga-harga barang melambung. Percuma saja ada bantuan jika tidak disalurkan pada sasaran. Percuma saja ada bantuan jika tidak menyentuh yang seharusnya. Percuma saja ada bantuan jika hanya memperkaya sebagian orang. SUDAH CUKUP Komersilkan Gempa Nias, biarlah para Korban Gempa mencoba berpaling dari mimpi buruk yang senantisa diungkit, biarlah Korban Gempa mencoba bangun dari mimpi indah yang semu, biarlah Korban Gempa mencoba melangkah walau tertatih tapi pasti.

Share and Enjoy: These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Technorati
  • Book.mark.hu
  • del.icio.us
  • Netvouz
  • DZone
  • ThisNext
  • blogmarks
  • Fark
  • YahooMyWeb
  • Netscape

Artikel Terkait

Ingin Pasang Iklan atau ingin direview di Zalukhu.com ? Silahkan baca INFO LENGKAP.
Anda bisa mempublikasikan ulang artikel ini, dengan syarat menyebutkan sumber, judul asli dan link ke artikel ini.

Mulai 9 Oktober 2008 URL Komentar Blog ini Saya NOFOLLOW-kan
stumble it

3 orang yang ngoceh. Komentarin Dunk...

  1. turia
    Apr 4, 2008 at 08:59:03
    #1

    saya salut dengan berita bang zalukhu dimana anda dapat memepergunakan media ini untuk memberitakan berita2 miring mengenai kinerja BRR di pulau kita ini…saya juga mengharapkan agar bang zalukhu dapat memberikan opini lain, seandainya BRR akan ditangani oleh PEMDA kedepan ini yang menurut saya hal itu akan menguntungkan segelintir orang yg “intelek” dalam hal mempergunakan semboyan “KESEMPATAN DALAM KESEMPITAN”
    maju terus bang,,ungkap segala berita yg menurut abang tidak akan membangun PULAU NIAS ini…….
    YA’AHOWU

  2. admin
    Apr 4, 2008 at 16:32:25
    #2

    Wah jangan cuma saya saja donk, tapi kita semua hehehe. Yang paling penting mari kita membangun Nias dengan cara masing-masing sesuai dengan keahlian dan kemampuan kta. Selama tujuannya untuk Nias tanpa maksud terselubung ya mari kita saling mendukung. Hehehe

  3. a elwiq pr
    Oct 21, 2008 at 09:34:27
    #3

    trimakasih hal ihwal Nias yang selalu ingin kuikuti perkembangan usai gempa tiga tahun lalu … monolog batin Anda mengesankan.

    Salam hangat kami di TUREN - Jawatimur

Post a Comment